Spasi


cr



"Kamu tahu, kadang-kadang, kita terlalu punya banyak jawaban di kepala, melebihi pertanyaan-pertanyan yang ada. Begitulah." Itu katamu dulu, Ar. Kamu ingat? Setelah pertengkaran-pertengkaran pendek yang semuanya disebabkan oleh kekonyolanku; tak mau gendut tapi sering minum kola, membenci rambut berombak sebahu di kepalaku, dan semua sasaran kemarahanku tertuju padamu, dan kau hanya mengangkat bahu dan tersenyum geli —dan itu berhasil membikinku sebal-, kau akan mengulang perkataan yang sama. Setiap kali aku marah. Setiap kali aku sebal. Setiap kali aku sedih. Entah apa maksudmu. Sekarang, aku berharap kau duduk di sini, dan berbincang hal yang sama. Satu ketidakmungkinan yang aku harapkan. Lagi-lagi.























Aku menaiki kapal kayu ini dengan kepayahan. Hujan baru saja reda, setelah menghebat semalaman. Pulau yang selalu sepi dan terlihat muram ini seolah-olah melepas kepergianku dengan sedih, setelah tiga hari yang terasa amat panjang aku lewati di sini, tanpa aliran listrik dan sebatang sinyal pun. Aku bahagia, sebentar lagi kembali dari tugas liputan menyebalkan yang membikinku tak bisa update dengan media sosial dan pekabaran.






Kutapaki tangga kayu yang licin dengan sepatu kets yang sudah lepek terpapar becek. Kapal kayu super kecil ini terdiri dari dua lantai. Di lantai satu, hanya ada ruang yang bisa memuat dua puluh orang dewasa untuk duduk berselonjor kaki di dalamnya, sedang di ruang atas, adalah atap kapal yang difungsikan juga sebagai tempat duduk orang-orang yang tak mau pengap berdempetan di bawah, bersama kawanan ikan asin, kopra, cengkih, dan semua hasil alam yang akan bertolak ke kota kabupaten untuk ditukar dengan nilai rupiah. Aku, adalah satu dari sekian orang yang memilih duduk di atas, walau tentu saja di atas masih sangat lembab setelah hujan panjang.






Setelah menapaki tangga terakhir di dek kapal, aku melirik sekilas, ada pojok yang asyik di sudut kiri kapal. Ruang duduknya lumayan untuk menghalau lelah di tujuh jam perjalanan nanti. Kuambil langkah cepat sebelum ada orang yang mengambil tempat tersebut. Kuseret kakiku cepat, sambil menggendong ransel hitam kesayangan yang berisi beberapa lembar pakaian serta kamera saku. Di situ, kecerobohan penuh anugerah menghampiriku. Ceroboh, aku hampir terpeleset jatuh dan nyaris tenggelam di laut. Anugerah, sebab itulah kali pertama aku menatapmu, Ar. Senyum penuh dari wajahmu yang pualam, menguasai sepersekian detik hidup milikku.






"Hei, hati-hati, Nona. Tenang, tak akan banyak orang yang naik ke sini, terlampau lembab. Mereka akan memilih duduk di bawah bersama kawanan ikan asin daripada menghabiskan tujuh jam perjalanan duduk di kayu-kayu lembab di atas sini. Santai." Kau tersenyum dan menangkap pergelangan tanganku cepat, sebelum aku jatuh terjerembab. Aku terdiam. Menatap penuh ke wajahmu yang terlampau pualam dan senyummu yang penuh dan sepakat mencuri pandanganku. Oke, aku akui, aku jatuh cinta pada pandangan pertama di atas kapal kayu kecil sarat muatan itu padamu.






***


"Siapa yang jatuh cinta pertama kali ya antara kita berdua?" Tanyamu suaru sore di tengah rintik, dan kita terjebak di pusaran kafe bersama dua cangkir kopi hangat di genggaman, sambil menatapku.






"Hih, tentu saja kamu yang duluan. Akui sajalah, Ar, jangan merona begitu!" Aku tertawa sambil menonjok pelan bahumu. Kau kemudian mengangguk penuh tawa sambil pelan-pelan menyesap kopimu. Oh, Tuhan, aku menyesal hingga kini tak pernah memberitahumu, bahwa akulah yang menyimpan rasa cinta itu pertama kali. Sesaat setelah kau menangkap pergelangan tanganku dan melempar senyummu yang penuh. Dadaku sesak.






***






"Ah, terima kasih. Terima kasih," aku terbata-bata menjawabmu. Pelan-pelan, aku berjalan menuju sudut yang kuincar sejak awal, hanya dua jengkal di belakangmu. Aku tak sadar, sedari tadi, di antara lima orang yang duduk di atap kapal, ada lelaki berwajah pualam yang duduk di sini. Dirimu.






Aku mengambil posisi duduk yang nyaman, sambil melengserkan ransel hitam dari pundak. Kupeluk kedua lututku dan meletakkan ransel di samping. Kutatap sepatu ketsku yang sudah tak karuan dihantam becek. Celana pendek selutut yang kupakai pun tampak kotor terkena titik-titik lumpur. Aku menepuk-nepuknya. Percuma. Biarlah. Aku menyisir rambut berombak sebahuku dengan jari, berharap itu sedikit membantu. Pelan-pelan, kurogoh ransel dan mengambil buku kecil dan pulpen dari sana, berpikir untuk mulai menulis sedikit bahan liputan terbitan sepekan ke depan, liputan khusus tentang keindahan pulau ini. Pemimpin redaksi harian tempatku bekerja dengan semangat membanting setir pos liputanku ke sini. Ini seharusnya menjadi tugasnya, namun ia harus buru-buru pergi mengajak istrinya liburan ke Bali karena ketahuan selingkuh, dan dengan kurang ajar menimpakan tugas ini padaku. Aku mual. Di tahun-tahun berikutnya, aku selalu bercerita padamu, Ar, betapa aku membenci laki-laki tukang selingkuh, dan mengenang masa tugasku dan pulau ini selama tiga hari dengan sangat memuakkan. Tanpa listrik, tanpa sinyal provider. Penderitaan pangkat seribu.






"Tapi, kalau tak ke sana, tak mungkin kita akan bertemu di kapal kayu itu, kan?" Tanyamu sambil tersenyum, sembari menjawil daguku. Aku balas menepuk bahumu pelan. Bertukar tawa.






***


Baru saja ingin menulis rangka liputan, aku mendengar kau berdeham. Kutatap kau sejurus kemudian, berusaha tersenyum dan bertanya. Tapi kau bertanya duluan, lebih cepat sekian milidetik dariku.






"Kau wartawan?" Kau menoleh ke belakang sambil menunjukku.






"Ah, iya, bisa dibilang begitu. Kuli tinta, hehe." Aku menjawab sekenanya, mecoba ingin menulis, tapi sulit harus dari mana. Kau tahu aku wartawan dari mana, Ar? Inggin kutanyakan itu, tapi kau sudah memotong cepat.






"Hm, menarik. Kau ingin menulis tentang pulau ini, ya? Beberapa hari belakangan aku melihatmu memorret banyak sudut di pulau ini, dan berkendara dengan motor bebek dari desa ke desa, aku yakin, kalau bukan fotografer, pasti kau penulis, atau wartawan. Kalau ada pertanyaan soal liputanmu, kau bisa tanya-tanya padaku, dua tahun belakangan, aku tinggal di sini. Aku sedang menyelesaikan bukuku yang berlatar kehidupan di pulau ini," jelasmu bersusulan.






Cerewet. Itu kesan yang pertama kali kuperoleh darimu. Aku bingung mau menjawab apa, akhirnya aku hanya mengangguk dan tersenyum sambil patah-patah berterima kasih. Kau mengangguk, kembali berbalik dan tenggelam dalam bacaan yang kau pegang. Kulirik sekilas judul buku yang kau genggam, Colorless milik Haruki Murakami. Hm, berat juga seleramu.






Dua jam berlalu, kapal kayu masih membelah ombak menuju kota kabupaten. Aku sudah selesai menulis beberapa lead liputan. Kulirik punggungmu, kau tengah memandang lurus ke depan, buku yang kau baca tak ada lagi. Mungkin sudah kau masukkan ke dalam tas ransel abu-abu di hadapanmu. Berselang sekian detik, kau menoleh ke belakang. Tatapan kita bertemu. Kau melempar senyuman penuh. Aku kalah telak. Kukirim senyum patah-patah yang kaku dari bibirku.






"Hei, kau merasa bosan, Nona? Sepertinya tak ada yang salah kalau kita berkenalan, ya?" Kau bertanya sambil menggeser dudukmu ke belakang, sejajar denganku. "Namaku Ar. Kamu?"






Huh. Pertama kali mendengar namamu, aku benci. Bukan apa-apa, lidahku terlampau pendek, sehingga kesulitan mengucap huruf r. Apa pula namamu? Ar? Lebih baik jika kulafalkan seperti mengeja r dalam bahasa Inggris. Samar.






"Oh, iya. Namaku Pagi. Senang kenalan denganmu, Ar," aku menjulurkan tangan, kau membalasnya dengan semangat sambil tertawa.






"Kenapa tertawa? Ada yang lucu?" Aku berucap kesal sambil menjepit anak-anak rambutku yang dimainkan angin laut ke belakang telinga.






"Tidak, tidak. Maaf. Kau mengeja namaku lucu, seperti keponakanku di rumah. Hehe, maaf, jangan lekas tersinggung. Wih, namamu bagus sekali, apakah kalau sudah sore namamu berubah jadi Sore, Pagi? Hehe, jangan tersinggung, aku cuma bercanda. Maaf, ya," kau berbicara dengan sedikit pingkal. Aku sebal, tapi ikut tersenyum.






Setelah agak cair, kau ingat, Ar? Kita membicarakan begitu banyak hal. Politik, keadaan pulau yang telah jauh kita tinggalkan di belakang, pekerjaanku sebagai wartawan, pekerjaanmu sebagai penulis yang selalu diomeli soal deadline oleh editormu, olahraga bulutangkis, dan semua hal random lainnya. Kita bertukar tawa. Waktu itu, aku bahkan sampai terpingkal-pingkal dan menangis saking lucunya ceritamu. Banyak sekali, Ar. Di titik itu, aku sadar, lima jam berikutnya yang kita lewati dengan bertukar cerita, adalah salah satu momen terbaik dalam hidupku.






Sampai di pelabuhan kota, kapal kayu yang kita tumpangi membuang jangkar dan sandar di dermaga. Kau melompat turun. Aku menyusul di belakangmu. Hari mulai saga, lantunan suara mengaji dari masjid mulai terdengar susul-menyusul. Setelah menapaki kaki di dermaga, satu dua sisa tawa masih terdengar dari kita berdua.






"Pagi, aku harap masih ada cerita-cerita lain yang kudengar darimu, begitu pun sebaliknya. Err, maaf jika ini terdengar konyol atau kurang ajar, apakah kita masih bisa bertemu? Atau bertukar nomor telepon, mungkin?" Kau bertanya pelan, Ar. Aku nyaris tidak mendengar ucapanmu yang hampir dibunuh suara mesin-mesin kapal lain di dermaga.






"Ah, tentu saja. Tidak masalah." Aku tersenyum, meminta gawaimu dan mengetikkan nomorku di sana. Menulis kontak dengan nama Pagi Bukan Sore. Kau tersenyum. Berjanji akan menghubungiku secepat yang kau bisa. Itu adalah perpisahan pertama yang amat menyenangkan, Ar.






***






Entah bagaimana awalnya, di tengah jadwal liputanku yang padat dan deadline buku dan tulisanmu yang merayap, kita sama-sama mengikat komitmen untuk bersama-sama sampai entah. Di sela-sela kesibukanku saat kau kembali dari pulau, kita berjumpa. Minum kopi di kafe favorit, menyaksikan konser musik band indie kesayangan kita, menonton film, bercerita banyak hal, hingga masak makanan aneh di rumahku. Lebih tepatnya, aku memasak, dan kau menjadi kurator yang menyenangkan bagi masakan-masakan anehku.






"Ini enak, Gi. Coba deh garamnya dikurangi sedikiiiit lagi, pasti akan jauh lebih enak," katamu, memilih menggunakan diksi tersebut dibandingkan lurus bilang masakanku keasinan.






***






Satu tahun dua bulan, Ar. Waktu yang cukup singkat bagi pasangan muda yang penuh kegilaan seperti kita, yang pada akhirnya kau menyatakan ingin menghabiskan waktu seumur hidup denganku. Tak ada lamarab romantis dengan bertekuk lutut di hadapanku. Semua biasa-biasa saja, terlampau konyol saat kuingat, tapi lucu.






Di sore itu, saat buku pertama berlatarkan pulau sudah selesai dan kau sedang sibuk menyusun buku kedua dengan latar yang sama, kau mengajakku bertemu di kafe kopi favorit kita. Aku datang tergesa-gesa dengan motor maticku. Belum mandi di penghujung sore, rambut berombakku setengah acak, kututupi dengan topi bisbol putih. Kemeja seperempat lengan dan celana panjang serta sepatu kets yang tampak lelah, menjadi temanku menemuimu. Tak ketinggalan kamera dan tas ransel berisi tumpukan kertas plot liputan kuseret menuju meja tempatmu duduk.






Sore itu, Ar, aku kaget melihatmu. Kau, dengan wajah pualam yang selalu membikinku jatuh sayang, tampak sangat rapi. Kemeja panjang berwarna merah bata yang kau gulung lengannya sebagian, celana panjang jins tak ketat, sepatu kets bersih, dan wangi parfum yang selalu menyenangkan indera penciumanku. Kau tersenyum penuh menatapku.






"Haaa, kau rapi sekali, Ar. Maaf, aku baru selesai mengejar-ngejar narasumberku, rapat redaksi sore yang penuh emosi, dan maaf aku membawa tampang lelahku ke sini di hadapnmu. Maaf, ya," aku merasa bersalah, melepas topi bisbolku, dan merapikan rambut ombakku dengan sisiran jari.






"Kau selalu cantik, Pagi. Selalu." Kau tersenyum menatapku. Gerakan jariku berhenti. Jantungku berdegup amat cepat. Kurasa wajahku memerah waktu itu, Ar. Kutepis ucapanmu dengan gerakan tangan, lalu cepat-cepat memanggil pelayan dan memesan es kopi dan ubi rebus.






"Aku lapar," ujarku cepat saat pesanan tiba di hadapanku. Kuhirup es kopi perlahan. Rasa segar menjalar di kepalaku yang panas.






"Aku pun. Bagaimana kalau kita menikah?" Kau berkata lurus. Tanpa aba-aba. Tanpa basa-basi. Aku tersedak. Es kopi yang kuminum keluar di hidungku. Kau cepat menawariku sehelai tisu di hadapanmu.






"Eh, duh, kalau mau bercanda jangan begini dong, aku kaget, tau!" Aku menepuk punggung tanganmu pelan, sambil menyeka mulutku.






"Kata siapa aku bercanda? Aku serius, Pagi. Aku ingin menikah denganmu. Aku yakin, kita akan menjadi pasangan yang luar biasa. Aku serius, Pagi. Seserius aku menggarap buku-bukuku," kau menatapku lurus. Wajah pualammu tak tampak bercanda. Gerakan tanganku terhenti. Aku membalas tatapanmu. Jawaban yang ingin aku ucapkan, tercekat di kerongkongan.






"Ar..." aku menjawab dengan patah-patah.






"Hm, begini saja, Pagi. Kau bisa menjawab sekembaliku dari pulau. Aku akan pergi malam nanti. Dua hari lagi aku kembali. Kau bisa memikirkannya masak-masak, menceritakannya pada mamak dan bapak, dan berpikir banyak hal selama aku di sana. Kumohon, apapun jawabanmu nanti, semoga itu adalah hal yang paling baik yang bisa kau utarakan. Aku jarang mengatakan ini, tapi sungguh, Pagi, aku mencintaimu," kau menggenggam tanganku, mengusapnya lembut, dan tersenyum. Sore itu, Ar, wajah pualammu terlihat amat teduh. Aku mengangguk dan menangis haru. Sebenarnya, sore itu aku sudah tahu harus menjawab apa.






***






Aku mengantarmu ke pelabuhan menuju pulau. Sebelum naik di kapal kayu sarat muatan itu, kau berbalik dan melemparkan senyum pualammu. Aku melambaikan tangan, memintamu segera naik ke kapal. Aku berbalik sesegera mungkin, melaju membelah jalanan kota dan kembali ke kantor untuk menyelesaikan pekerjaan.






Malam itu, Ar, aku menjadi orang yang paling menyesal di dunia. Tengah malam, saat aku masih sibuk mengetik liputan-liputanku, salah seorang teman wartawan dari pos metro memghambur masuk ke ruang redaksi.






"Astaga, guys, kapal Cahaya Indah yang berlayar menuju Pulau Sasak tenggelam karena terbakar. Sepertinya ada yang merokok dan terpapar mesin. Muatan malam ini padat dengan atap rumbia dan kelapa kering. Semua habis terbakar. Saat tim tiba, semua habis tak bersisa, tenggelam." Aku tidak bisa mendengar laporan selanjutnya. Kakiku seperti dihantam besi. Kepalaku pusing. Aku jatuh. Semuanya gelap.






***






Ar, tepat satu tahun sudah kejadian itu berlalu. Luka di hatiku masih basah menganga. Setiap memgingat wajah pualammu, aku hanya bisa terisak. Aku kepayahan, melangitkan semua jawaban-jawaban yang tidak sempat aku ucapkan. Kau benar, aku punya terlalu banyak jawaban untuk pertanyaan-pertanyaanmu, Ar. Sayangnya, aku tak bisa menyampaikannya secara langsung. Sesak.






Malam ini, aku memutuskan bertolak menuju pulau. Aku harus berdamai dengan semuanya, Ar, dengan rasa sakitki, dengan jawaban-jawaban yang tak sempat kau dengar, dan semuanya.






Aku memilih duduk di atas, di sudut pertama kali kita bertemu. Sayangnya, kapal ini sudah bukan yang dulu lagi. Catnya masih berbau baru. Aku duduk diam, menyilangkan kaki dan menarik napas. Aku berjanji, Ar, setelah ini, tak ada lagi air mata sesak di malam-malam yang kulewati dengan tidur yang pendek. Aku yakin, kau akan sangat sedih melihat kelakuanku.






"Dik, jangan duduk di atas, kalau malam dingin sekali," seorang anak buah kapal menegurku, aku hanya balas tersenyum sambil mengibaskan tangan. Tak apa. Tak ada yang lebih dingin dibandingkan sudut hatiku yang lau hantam pergi, Ar. Tak ada.






Kapal mulai melaju meninggalkan kerlip lampu kota. Lampu di atap kapal mulai dinyalakan. Amat terang di sini. Ada tiga orang lelaki lainnya yang memilih duduk di pinggir atap kapal. Mungkin, mereka juga sedang mengenang kekasih yang sudah tiada. Atau entahlah.






Di tiga jam perjalanan, malam semakin tua. Aku menatap langit, bintang berpendar indah di atas. Angin makin kencang. Aku merogoh gas ranselku, mengeluarkan setumpuk foto dari sana. Foto-foto kita berdua di berbagai momen; ulang tahunku, ulang tahunmu, peluncuran bukumu, arisan keluargaku, foto-foto absurd kita berdua, banyak sekali, Ar. Banyak sekali.






"Kau tahu, kalau aku sudah tiada nanti, aku ingin sekali menjadi angin laut yang asin. Terbang mengitari lautan yang luas, dan sekali-sekali masuk ke jendela kamarmu," kau berujar asal, yang kemudian kutimpali dengan gidikan ngeri dan memintamu berhenti berucap bodoh soal kematian.






Malam ini, aku merasai angin laut pelan menyentuh kulitku, menyisiri rambut berombakku dengan sejuk, dan membuat mataku panas. Aku menangis. Apakah itu kau, Ar? Tangisku makin menghebat.






Kutatap foto-foto tersebut satu-persatu. Wajahmu yang selalu pualam. Senyummu yang selalu penuh. Gigimu yang rapi dan selalu tampak semua saat menyebut namaku dengan semangat. Rambutmu yang legam. Aku membisiki foto-fotomu perlahan. Aku berujar iya ribuan kali. Jutaan kali. Aku tersengal menangis, dadaku semakin sesak rasanya.






Satu-satu, ujung jariku melepas fotomu. Membiarkannya dibawa angin laut, dan melihatnya tenggelam dipeluk air laut yang gelap. Ar, aku mencintaimu.






Luwuk, 15:54.





5/6/17


Comments

Post a Comment

Popular Posts