Duduk dan Dengarkan Kata Hati Saya



"Saya sakit!" Kamu berujar pelan. Mata bulatmu menggambarkan keresahan. Kulitmu serupa warna mata pensil yang sering kita gunakan mengarsir bulatan lembar jawaban.

Izinkan saya duduk di dekatmu, mengusap jemari gemuk putihmu, lalu lirih berdoa dalam. Semoga kamu selalu baik. Senantiasa dalam kebajikan. Sekarang sedang hujan, kan? Ini waktu yang tepat buat saya panjatkan pinta kepada Sang Penguasa Langit.

"Saya ingin buah manggis. Kulitnya jauh lebih baik." Kamu menatap dengan sorot pinta. Saya angguk, tunggu hingga tiba musim panen. Saya akan berikan dengan akarnya di telapakmu, agar kamu bisa menanamnya di belakang rumahmu yang bertanah gembur itu. Dengan ketentuan, kamu harus sehat. Tak sakit. Kamu harus kuat. Tak lemah.

"Saya memberimu buku saja dulu, ya?" Saya menatap menawarkan. Kamu tersenyum. Mengangguk sekali dua kali. Rambut ombakmu bergoyang lincah. Buku gambar, katamu. Ah, bukannya kamu tak pandai menggambar? Kamu halus menggeleng. Kamu ingin menggambar matahari yang terbit dari balik gunung yang tua menghijau. Iya. Saya akan membawakannya untukmu, dengan ketentuan kamu harus tegar. Tak boleh gentar. Kamu harus teguh. Tak boleh jatuh.

Kita senantiasa berdoa, dengan segala sifat rendah hati. Pun, ketika Dia belum membuka lembaran surat yang berisi doa kita, tetaplah menjaga prasangka baik kita terhadapNya.

22:28, permainan frasa dari Nur.

Comments

Popular Posts